alamat baru Cerita 998 http://cerita998.us

Lapor link/video rusak dan request video disini

   

Berbuat dosa dengan anakku

AKu terus melakukan fitnes secara
terutur. Mulanya, untuk membuang
waktuku yang percuma. Akhirnya
aku menikmatinya, karean aku
merasakan tubuhku semakin sehat
dan semakin segar. Anak tertuaku, Jonson, berusia 18 tahun. Dan
putriku si bungsi Lala, 15 tahun
lebih. Mereka berdua adalah anak
manis yang selalu menghikuti apa
saranku. Walau Jonson anak tertua,
tapi dia adalah anak yang paling manja padaku. Terkadang adiknya
Lala justru mengejeknya, karena
sebagai anak laki-laki dan anak
tertua, dia demikian manja padaku. Sering kali dia ikut tidur bersamaku
dan Lala di kamar. Kami tidur
seranjang jumbo bertiga. Dia
memang orang yang sangat
perhatian kepadaku dan kepada
adiknya Lala. Sebagai anak laki-laki dia selalu memperhatikan kami dan
selalu menjaga kami. Itu memang
aku berikan kesempatan agar dia
menjadi anak dewasa yang
betanggung jawab. Saat kami liburan, aku memakai
bikini juga Lala dan Jonson
memakai pakaian renang super mini
dan ketat. Aku melihat tubuhnya
yang demikian atletis, sebagai
seorang perenang dan seorang binaraga. Tiba-tiba saja keinginanku
tentang seks muncul dan
menggebu lagi. Tapi haruskah
Jonson anakku? Anak kandungku
sendiri? Andaikan dia, bagaimana
aku harus mengawalinya? Sementara dengan laki-laki lain aku
tak mungkin melakukannya. Banyak
hal yang harus kujaga. AKu tak mau
menikah lagi, agar kedua anakku
bisa menjadi milikku dan aku milik
mereka bedua. Saat aku merenung, aku m
engingat berbagai peristiwa.
Terutama saat kami berjalan,
Jonson selalu menggenggam
tanganku dan telapak tangan kami
selalu bersentuhan. Sebenarnya saat itu aku pernah juga horni. Akhi
ingat-ingat, kalau tak salah, nafas
Jonson juga memburu ketika itu. Ini
salah satu jalan. Kedau, aku tak
pernah lupa, saat aku bermimpi
pada malam saat aku baru saja melayang tertidur, aku merasakan
sesuatu pada pentilku. Ternyata
pentil tetekku diisap oleh Jonson.
Tetekku keluar dari baju tidurku
dengan kancing terbuka. Ketkka itu
aku merasa semua adalah hal yang tidak disengaja, namun aku
membiarkannya ketika uitu, aku aku
merasa nimmat, lagi pula Jonson
kan anakku. Apalah salahnya dia
menetek pada pentil susuku,
bukan? Aku mengenangnya, pasti ketika itu Jonson tidak sedang
tertidur. Kedua, saat aku tertidur pulas, aku
sedang menjepit dengkul kaki
Jonson dengan kedua kakiku dan
dengkulnya berada pada vaginaku,
walau masih dilapisi celana dalam.
Ya… Itu semua terjadi bukan secara kebetulan. Ketika berada di dalam kolam di
sebuah villa tempat kami berlibur,
aku tiba-tiba cemburu pada putriku
Lala, saat dia memeluk Jonsong
dari belakang. Kedua tanganya
memeluk leher Jonson dan kedua dadanya menempel di punggung
Jonson dan Jonson membawanya
berenang. Haruskah aku cemburu?
Apakah mungkin Lala juga jatuh
cinta pada abangnya itu? Aku juga
pernah cemburu pada Jonson, ketika dia dan Lala dansa di sebuah
pesta kawan kami. Saat itu Lala dan
Jonson berpelukan erat berdansa
dengan irama wals. Ah… Akhirnya aku berinisiatif pula
meminta pada Jonson agar aku
juga dibawa berenang seperti dia
membawa Lala berenang. Jonson
menyanggupi dan aku meniru
bagaimana Lala memeluk Jonson. Buah dadaku benar-benar
menempel dipunggung Jonson dan
aku dibawa berenang. Akhirnya,
kami pun istirahat, karean makanan
yang kami pesan sudah tiba. Empat
buah ayam goreng dan kentang serta salad dan minuman bir serta
teh panas. Akau dan Jonson minum
bir. Oh… bukankah bir kesenangan
kami berdua. Ya… inilah saatnya.
Inilah jalannya. Setelah letih, kami pun duduk
sejenak. Saat itu Lala pergi ke
kamar mengambil hamduk yang
berbentuk Kimono. Saat itu
kuimanfaatkan naik ke pangkuan
Jonson rebahan di kursi yang biasa dipakai berjemur. Saat itu aku
mengangkangi kedua kakinya dan
aku menduduki, tepat di bagian
burungnya. Akumencium pipinya
dan hanya beberapa detik aku
merasakan burungnya mendenyut- denyut dan mengeras. Aku
tersenyum padanya dan dia
membalas senyumku. Aku berharap
dia mengerti kenapa aku
tersenyum.
“Aku berharap, kamu mengerti kenapa aku tersenyum,” kataku
padanya.
“Aku juga berharap, apa arti balasan
senyumku,” jawabnya. Mendengar
jawabannya. Aku pun turun dari
pangkuannya. Tak berapa lama Lala pun datang. Aku bersyukur dia
datang tepat pada waktunya dan
aku turun tepat pada waktunya. Kami pun masuk ke vuilla sat
matahari benar-benar menghilang
dari pandangan digantikan oleh
kerlap-kerlip cahaya lampu. Kami
makan bersama di meja makan.
Tiba-tiba saat itu, telepon Lala Berdering. Kemudian dia bicara.
Seusai bicara dia berkata, kalau
temannya Susan mau datang ke
villa dan menjemputnya. Lala mau
bergabung dengan teman-
temannya. Izin aku berikan, namun tetap besok pagi sudah berada
kembali di Villa dan siangnya
pulang ke rumah.

Aku dan Jonson ikut berjalan
menuju jalan raya mengiringi Lala
pergi bersama lima temannya yang
lain yang sekesemuanya mereka
adalah perempuan. Setelah mereka
naik kenderaan umum menuju villa yang lain, aku mengajak Jonson
membeli setengah lusin Bir dan aku
membeli sebotol kecil minuman
keras Vodca. Kami pun kembali ke
villa dengan membawa minuman
itu, menggunakan ojek. Tak lupa kami membeli makanan ringan dan
di Villa kami sudah memesan ayam
muda untuk digoreng dan kentang
goreng juga. Walau Lala sudah tidak berada di
antar akami lagi, lantai dua
berkamar satu ukuran jumbo itu
otomati smilik kami. Pintunya kami
kunci dan kami pergi ke teras untuk
memulai pesta kami. Jonson hanya menuang bir pada gelas besarnya,
karean dia adalah anak yang teratur
minum. Sementara aku menuang
bir bercampur Vodca dan sedikit es.
Kami ngobrol apa yang saja yang
ingin kami obrolkan. Termasuk saat aku menungganginya saat di kolam
renang tadi. Aku mengulangi perkataanku,
semoga dia mengerti kenapa aku
tersenyu padanya. Jonson juga
mengulangi perkataannya agar aku
juga mengerti kenapa dia
membalas senyumku. “Aku merasakan, kalau burungmu
bangkit berdiri,” kataku dengan
senyum manis.
“Sudah pasti, Ma. Aku laki-laki
normal/ Gesekan vagina mama
pada burungku, tak bisa dipisahkabn walau ada pelapisnya
masing-masing kita memakai kain,”
katanya penuh pengertian.
Membuat aku tak menjadi malu
lagi.
“Ya. Mama juga tadi horny dan mama cemburu, saat Lala
memelukmu erat dari belakang,”
kataku berterus terang dan aku
berbicara itu sudah mulai horny. Sebentar-sebentar aku bersendawa
dan aku menyandarkan kepalaku di
dadanya, terasa olehku embun
yang mengelus-elus pipiku. Aku
berpura pura mabuk, Terlebih ketika
dia pergi buang air kecuil ke kamar mandi, aku membuang vodca
dalam botol dan menyisakan sedikit
saja. Ketika dia keluar dari toilet,
aku sengaja memperlihatkan
kepadanya, aku sedang
mencampur vodca ke dalam botol bir. Kemudian aku membuang botol
itu ke tong sampah. “Kamu tidak boleh meminum
minuman dari botol Mama. Kamu
cukup bir saja,” kataku berpura-pura
mulai berat dan mendekati mabuk.
“Mama jangan terlalu banyak
minum,” nasehatnya. “Aku berani muinum seperti ini,
karean ada kamu. Andaikan kamu
tidak ada, aku tidak akan minum
seperti ini,. Kepada siapa lagi aku
bermanja jika tidak kepadamu,”
rayuku. Aku benar-benar sudah kehilangan
keseimbangan. Aku benar-benar
benar-benar sudah horny. Aku tak
perduli lagi, apakah Jonson anakku
atau bukan. Aku hanya berpikir,
daripada aku harus disetubuhi oleh orang lain, kenapa aku tidak
memberikan tubuhku pada anakku
saja. Lagi pula aku mengetahui,
kalau Jonson juga menginginkan
tubuhku. Dia begitu responsif.
Akau terus minum dan minum dan terus menutup mata, walau aku
sedikit membukanya, agar aku bisa
melihat apa yang akan dilakukan
Jonson kepadaku. Aku memasukkan tanganku dari
celah kancing bajunya yang dilapisi
jacket. Aku mengelus-elus dadanya
yang bidang dan aku mencium
lehernya. Dengan kasih sayang
Jonso mengelus kepalaku. Aku diperlakukan bagaikan anak kecil.
Dimanja dan disayang. Nah… ini dia
yang tak pernah kudapatkan dari
siapapun di dunia ini, seingatku.
Aku adalah anak ke lima dari
sembilan orang bersaudara. Aku tak pernah dimanja oleh siapapun juga.
Kini aku mendapatkannya. Bukan
dari suamiku almarhum, bukan dari
ayah dan ibuku yang almarhum,
tapi dari anak yang kulahirkan
sendiri. Dan… Nah… ini dia. Aku merasakan
tangan kiri Jonsongh menyelusu[p
ke dalam bajuku dan mengelus
buah dadaku. Horeee… hatiku
demikian gembira. Berarti aku tidak
bertepuk sebelah tangan. Berarti aku tak perlu malu lagi. Berarti aku
akan mendapatkan apa yang
kuinginkan beberapa bulan terakhir
ini.
"Jonson sayangku…” aku mendesah
masih dengan peran seperti orang mabuk.
"Mamaku tersayang dan tercinta,”
desah Jonson ditelingaku.
"Perlakukan aku sepertio pacaramu
sayang atau…”
"Atau apa mama sayang…?” "Atau perlakukan aku seperti
isterimu sayang..” kataku masih
berpura-pura mabuk.
"Ya. Bukankah aku sedang
memperlakukannya. Sebentar lagi
aku akan memberikan semuanya dan sebentar lagi aku juga akan
mereguk semuanya,” bisiknya.
"Ya.. ” kataku. Saat dia mereguk
bisnya yang kehabisan busa, aku
minta gelasku dituangkan ke
mulutku. Dengan kasih sayng dia melakukannya.

Begtiu aku meneguk minumanku,
tanganku menelusup pula ke dalam
celana trainingnya. Dan… Duh.
betapa kerasnya burung Jonson.
Aku mengelusnya.
"Sayang, besar sekali dan keras,” kataku bermanja.
"Ya.. itu milikmu Mama sayang,”
katanya.
"Jangan panggil aku Mama
sayang…”
"Lalu…?” "Jika kita berdua seperti ini, panggil
saja namaku…”
"OK.. Linda ku tercinta…” Aku terasa
seperti terbang melayang, namaku
dipanggil dengan lembut oleh
Joinson. Telingaku senang m endengarnya.
"Panggil namaku sekali lagi
sayang,” kataku.
"Oh… my Linda, may darling, my
honey…” bisiknya.
Aku terbuai dan melayang serta aku demikian bahagia. Aku melapaskan pelukanku dan aku
menurunkan celana traningnya.
Kemudian aku berjungkon di antara
ke dua kakinya. Kutangkap
burungnya, kuelus, kemudian
kujilat. Burungnya aku masukkan ke dalam mulutku dean aku
menjilatinya, bagaikan aku sedang
menjilati es krim.
"Nikmat sekali Lindaku tersayang,”
katanya. Saat itu juga aku
melapaskan celana dalamku dan aku naik ke pangkuannya,
KUkangkangi kedua kakinya, seperti
apa yang kulakukan di kolam
renang tadi. Perlahan kutuntun
burungnya memasuki vaginaku dan
burung yuang keras itu bersembunyi di dalam vaginaku. Kukeluarkan tetekku dan
kusodorkan ke dalam mulutnya.
"Habisi dia sayang. Isap dan jilat.
Aku istrimu kan?” bisikku. Jonson berdiri memelukku dan
membawaku ke dalam kamar.
Walau dalam pelukannya,
burungnya tetap bersembunyi di
dalam vaginaku. Kamui demikian
menikmati keindahan kami berdua. Dalamkeadaan berpakaian kami
bersetubuh dan di kamar aku tidak
ditelentangkan di atas tempat tidur,
tapi tetap dipanguannya. Leherku
diciuminya dan telingaku terus
menerus mendengarkan suara pujiannya. "Kamu cantik sekali Linda. Aku
mencintaimu.”
"Aku juga mencintaimu Jonson. Aku
suka kontolmu yang besar ini.”
"Aku juga suka memekmu yang
padat ini.” "Ya… Dia milikmu sayang.”
"Aku ingin kita terus menerus seperti
ini, Sayang,”
"Ya Jonson. Aku juga kita bisa terus
menerus seperti ini.”
Aku takut, kamu bisa hamil,” katanya.
"Jangan takut sayang. Aku sudah
tidak bisa hamuil lagi. Kami dulu
punhjya program dua nak saja,”:
kataku. Dia tersenyum dan aku juga
tersenyum. "Kamu tidak mabuk lagi, kan
sayang?” bisiknya.
"Aku hanya berpura-pura mabuk
saja sayang,” kataku. Dia kembali tersenyumd ana aku
juga tersenyum,. Lidah kami salit
bertautan dan kami saling mengelus
denga penuh kasi sayang kami.
Cinta kamui berdua demikian indah.
Idah sekali.. Angi erus menerus menusuk-nusuk
masuk melalui pintu. Rasa dingin
mulai menjalar di tubuh kami. Kami
berpelukan menghangatkan t7ubuh
kami dan kami saling menjilat dan
mencium. "Hayo sayang, kita tuntaskan,”
bisikku.
"Ya… kita tuntaskan,” jawabnya. Dia
pun memelukku dan memutar-
mutar tubuhku dan aku mengikuti
irama putarannya. Kami saling merespons dan kami terus berayun-
ayun ditaman surga yang kami
ciptakan sendiri. "Linda.. aku sudah mau sampai,”
katanya.
"Ya sayang, aku juga. Teruslah…”
kataku.
Kami terus berpelukan. Semakin
lama semkian kencang dan suara ranjang berdenyit-denyit, seakan
menjerit tak mampu menahankan
nuansa birahi kami. Akhirnya aku
sampai juga, bersamaan dengan
beberaopa kali tembakan sperma
dari Jonson. pelukan kami semakin kuat dan aku mengggigit bahunya,
sembari mencengkram tengkuknya.
Aku sampai…. kataku histeri. Kami berdua pun dian dan kami
masih saling berpelukan.

TAMAT

Leave a Reply

cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot, cerita sex incest sedarah, cerita sex selingkuh, cerita sex ngentot mama nonton bokep indo, bokep jepang, bokep barat, bokep jilboob, bokep sma, bokep smp, abg indo, bokep remaja,


© 2017-2018 Cerita 998

Bokep indoKomik hentaiWebtoon dewasa