alamat baru Cerita 998 http://cerita998.us

Lapor link/video rusak disini

   

Perselingkuhan para istri

Peristiwa pertama,
DI TENGAH HUJAN

Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai anak sendiri. Dan sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti Pakde-nya yang sangat sayang pada keponakannya. Sehari-hari mereka bahu membahu mencari sesuap nasi membantu Pakde di sawah atau Budenya yang buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang Surti mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yang kerja di sawah. Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit tanaman.

Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah hamparan sawah desa yang sangat luas itu. Hujan ini luar biasa lebatnya. Disertai dengan angin yang menggoyang keras dan nyaris merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan kali ini sungguh luar biasa besarnya. Sebagai petani yang telah terbiasa denagn kejadian semacam ini dengan enteng Pakde Marto membabat daun pisang yang lebar untuk mereka gunakan sebagai payung guna sedikit mengurangi terpaan air hujan yang jatuh di wajah mereka yang menghambat pandangan mata.

Sambil memanggul cangkulnya Pakde Marto merangkul bahu Surti erat-erat agar payung daun pisangnya benar-benar bisa melindungi mereka. Surti merasakan kehangatan tubuh Pakde-nya. Demikian pula Pakde Marto merasakan kehangatan tubuh Surti yang istri keponakannya itu. Jalan pematang langsung menjadi licin sehingga mereka berdua tidak bisa bergerak cepat. Sementara pelukan mereka juga bertambah erat karena Pakde Marto khawatir Surti jatuh dari pematang. Kadang-kadang terjadi pergantian, satu saat Surti yang memeluki pinggang Pakde-nya. Tiba-tiba ada “setan lewat” yang melihat mereka dan langsung menyambar ke duanya.

Saat Pakde Marto memeluk bahu Surti tanpa sengaja beberapa kali menyentuh payudaranya. Pada awalnya hal itu tidak mempengaruhi Pakde, tetapi hawa dingin yang menyertai hujan itu ternyata mendatangkan gelisah di hatinya. Kegelisahan yang bisa merubah perasaannya. Saat pertama kali Pakde Marto tanpa sengaja menyentuh payudara istri keponakannya dia agak kaget, khawatir Surti menganggap dirinya berlaku tidak sopan. Tetapi saat yang kedua kali dan kemudian dengan sadar menyentuhnya kembali untuk yang ketiga kalinya dia tidak melihat adanya reaksi menolak dari Surti, pikiran Pakde mulai dirasuki “setan lewat” tadi. Dan pelan-pelan tetapi pasti kontol di balik kolornya mulai menghangat dan bangun. Toh rasa ke-imanan Pakde Marto masih berusaha bilang “jangan” walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya dia mengharapkan sesuatu keajaiban, mungkin semacam sinyal, yang datang dari Surti.

Demikian pula Surti yang merasakan beberapa kali payudaranya tersentuh, pada awalnya dia tidak sepenuhnya menyadari. Tetapi saat tersentuh untuk yang kedua kalinya dia mulai mengingat sentuhan yang sama yang sering dilakukan oleh suaminya Iding. Biasanya kalau Iding menyentuh macam itu pasti ada maunya. Pikiran lugu Surti langsung disambar “setan lewat” lagi. Adakah macam kemauan suaminya itu juga melanda kemauan Pakde-nya di hari hujan yang dingin ini? Tetapi sebagaimana Pakde Marto, Surti juga berusaha menepis pikiran buruknya dan berkata dalam hatinya “nggak mungkin, ah”. Walaupun dibalik sanggahannya sendiri itu bersemi di hati kecilnya, akankah datang sebuah keajaiban yang membuat tangan Pakde-nya menyentuh payudaranya lagi? Maka, ketika pelukkan Pakde Marto pada bahu Surti yang semakin mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu sudah merupakan awal kemenangan sang “setan lewat” tadi.
Demikian pula saat hujan yang semakin deras dan jalan yang semakin licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan mengganti posisi pelukan agar tidak jatuh dari pematang, pelukan Surti dari arah punggung pada pinggang dan dada Pakde-nya mendorong lajunya bisikkan “setan lewat” tadi. Buah dada Surti yang empuk menempel hangat di punggung dan tangan halus Surti yang menyentuh perut dan dada, membuat kontol Pakde-nya benar-benar tidak tahu diri. Keras mencuat ke depan seperti cengkal kayu yang menonjol pada sarung anak yang disunat. Untung Surti berada di belakangnya sehingga gangguan teknis itu tidak terlihat olehnya. Pakde Marto mulai mencari-cari apa jalan keluarnya?

Demikian pula yang dirasakan Surti saat memeluki Pakde-nya dari belakang. Tangannya yang ketat memeluk perut dan dada Pakde-nya membuat buah dadanya demikian gatal saat tergosok-gosok punggung Pakde yang tidak mungkin terdiam karena setiap langkah kaki Pakde-nya pasti akan menggoncang seluruh bagian-bagian tubuhnya. Kegatalan macam itu menjadi terasa nikmat saat Surti mengingat bagaimana Iding suaminya sering menggosokkan wajahnya ke payudaranya. Mudah-mudahan Pakde-nya tidak keberatan dengan pelukannya, demikian pikiran lugu Surti. Kemudian sang “setan lewat” kembali membisikkan ke dalam pikirannya, mudah-mudahan rumahnya semakin menjauh dan hujannya semakin menderas, yang disusul dengan seringai gigi taringnya karena gembira melihat usahanya telah meraih kemenangannya secara mutlak. Sekarang tinggal menggiring Pakde dan keponakkan mantunya ini menuju ke ke sentuhan setannya yang terakhir.
Hujan yang demikian hebat ini membuat jam 2 siang hari bolong itu gelap serasa menjelang maghrib. Awan gelap masih memenuhi langit. Dan lebih seram lagi kilat dan petir ikut menyambar-nyambar. Pikiran Pakde Marto dan Surti sekarang adalah mencari tempat berteduh. Pakde Marto tidak kehilangan arah. Dia tahu persis kini berada di petak sawah milik Sarmin tetangganya. Kalau dia belok sedikit ke kanan dia akan menjumpai dangau untuk berteduh. Dan benar, begitu Pakde Marto yang dalam pelukan Surti belok kekanan nampak bayangan kehitaman berdiri tegak di depan jalannya. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti dulu menunggu hujan sedikit reda.

Surti bisa menurunkan beban gendongannya ke amben bambu yang ada di situ. Kini mereka saling memandang. Surti memandang kaos oblong Pakde-nya yang basah kuyup lengket di tubuhnya dan menunjukkan bayangan dadanya yang gempal berotot. Sementara Pakde Marto melihat kebaya dan kain di tubuh Surti yang istri keponakannya basah kuyup dan membuat bayangan tubuhnya yang sintal dengan payudaranya yang menggembung ke depan. Dengan setengah mati Pakde Marto berusaha menyembunyikan tonjolan kontolnya pada celana kolornya.

Pakde Marto memperkirakan jarak dangau itu ke dusunnya kira-kira “se-udut”-an, sebuah perhitungan yang biasa dipakai orang desa mengenai jarak dekat atau jauh diukur dari sebatang rokok yang dinyalakan (dihisap). Mungkin sekitar 6 s/d 8 menit orang jalan kaki. Sementara itu tak bisa diharapkan akan ada orang lewat sawah ini dalam keadaan hujan macam begini. Pandangan mata secara jelas ke depan tidak lebih dari 5 meter, selebihnya kabut hujan yang menyelimuti seluruh hamparan sawah itu.

Dalam usaha menghindar percikan hujan di dangau Pakde Marto dan Surti harus duduk meringkuk ketengah amben yang relatip sangat sempit yang tersedia. Artinya seluruh anggota tubuh harus naik ke amben sehingga mau tidak mau mereka harus kembali berhimpitan. Dan sang “setan lewat” kembali hadir menawarkan berbagai pertimbangan dan keputusan.

Surti yang ditimpa hujan dan hawa dingin menggigil. Demikian juga Pakde Marto. Untuk menunjukkan rasa iba pada istri keponakannya Pakde meraih pundak Surti dan membagikan kehangatan tubuhnya. Dan untuk menghormati maksud baik Pakde-nya Surti menyenderkan kepalanya pada dadanya. Walaupun pakaian mereka serba basah tetapi saat tubuh-tubuh mereka nempel kehangatan itu terjadi juga. Dan pelukan yang ini sudah berbeda dengan pelukan saat awal Pakde Marto membagi payung daun pisangnya tadi. Pelukan yang sekarang ini sudah terkontaminasi secara akumulatip oleh campur tangan sang “setan lewat” tadi.

Saat kepala Surti terasa pasrah bersender pada dada, jantung Pakde Marto langsung tidak berjalan normal. Dan tonjolan di celananya membuat susah memposisikan duduknya. Demikian pula bagi Surti. Saat Pakde-nya meraih bahunya untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya dia merasakan seakan Iding yang meraihnya. Dengan wajahnya yang mendongak pasrah menatap ke wajah Pakde-nya Surti semakin menggigil hingga kedengaran giginya yang gemelutuk beradu. Dan inilah saatnya “sang setan” lewat melemparkan bisikan racunnya yang terakhir kepada Pakde Marto.
“Ambil!, Ambil!, Ambil!, Ambil!”, dan Pakde tahu persis maksudnya.

Seperti bunga layu yang jatuh dari tangkainya, wajah Pakde Marto langsung jatuh merunduk. Bibirnya menjemput bibir Surti yang istri keponakkannya itu. Dan desah-desah lembut dari dua insan manusia itu, membuat seluruh rasa dingin dari baju yang basah dan tiupan angin menderu akibat hujan lebat itu musnah seketika dari persada Pakde Marto maupun persada Surti. Mereka kini saling melumat. Sang “setan lewat” cepat berlalu untuk menghadap atasannya dengan laporan bahwa otomatisasi setannya sudah ditinggal dan terpasang dalam posisi “ON” pada setiap dada korbannya. Kini dia berhak menerima bintang kehormatan para setan.

Dan lumatan lembut menjadi pagutan liar. Kini lidah dan bibir mereka saling berebut jilatan, isepan dan kecupan. Dan bukan hanya sebatas bibir. Jilatan, isepan dan kecupan itu merambah dan menghujan ke segala arah. Keduanya menggelinjang dalam gelombang dahsyat birahi. Surti menggeliatkan tubuhnya minta agar Pakde-nya cepat merangkulnya. Pakde Marto sendiri langsung memeluki dada Surti. Wajahnya merangsek buah dadanya. Dikenyotnya baju basah penutup buah dadanya. Surti langsung mengerang keras-keras mengalahkan suara hujan. Kaki-kakinya menginjak tepian amben sebagai tumpuan untuk mengangkat-angkat pantatnya sebagai sinyal untuk Pakde-nya bahwa dia sudah menunggu tindak lanjut operasi cepat Pakde-nya.

Pakde Marto memang mau segalanya berjalan cepat. Waktu mereka tidak banyak. Segalanya harus bisa diraih sebelum hujan reda. Dan operasi ini tidak memerlukan prosedur formal. Kain penutup tubuh Surti cukup dia singkap dengan tangannya hingga ke pinggang. Nonok Surti yang menggembung nampak sangat ranum dalam bayangan jembutnya yang lembut tipis. Kelentitnya nampak ngaceng mengeras menunggu lumatan lidahnya. Tak ada yang ditunggu, wajah Pakde Marto langsung merangsek ke kemaluan ranum itu. Bibir dan lidahnya melumat dan menghisap seluruh perangkat kemaluan itu. Tangan Surti menangkap kepala Pakdenya, menekannya agar lumatan dan jilatan Pakde-nya lebih meruyak masuk ke dalam vaginanya. Cairan birahi yang asin hangat bercampur dengan air hujan dia sedot dan telan untuk membasahi kerongkongannya yang kering kehausan. Itil Surti dia lumat dan gigit dengan sepenuh gemasnya. Tekanan Surti pada kepalanya berubah jadi jambakkan pada rambutnya. Pantat Surti terus naik-naik menjemput bibir dan lidah Pakde-nya. Tetapi Pakde Marto tidak akan mengikuti kemauan idealnya. Hitungan waktu mundurnya sudah dimulai.

Kini Pakde Marto yang sudah meninggalkan celana kolornya di rerumputan pematang merangkak ke atas dan memeluki tubuh basah hujan Surti. Kontolnya berayun-ayun mencari sasarannya. Paha Surti yang hangat langsung menjepit tubuh Pakde-nya dengan nonoknya yang tepat terarah ke ujung kontol Pakde Marto. Untuk langkah lanjutannya, mereka berdua, baik yang senior maupun yang yunior sudah terampil dengan sendirinya. Ujung kontol Pakde Marto sudah tepat berada di lubang vagina istri keponakannya. Mereka telah siap melakukan manuver akhir sambil menunggu hujan reda. Dan saat mereka saling dorong, kemaluan Pakde Marto langsung amblas ditelan vagina Surti. Sambil bibir-bibir mereka saling melumat, Pakde Sastro mengayun dan Surti menggoyang. Kontol dan vagina Surti bertemu dalam kehangatan seksual birahi ruang luar, ditengah derasnya hujan, tiupan angin dan kilat serta petir yang menyambar-nyambar dengan disaksikan oleh segenap dangau yang lengkap dengan berisik ambennya, oleh belalang yang ikut berteduh di atapnya, oleh kodok yang bersuka ria menyambut hujan, oleh wereng yang berlindung di daunan padi yang sedang menguning, oleh baju-baju mereka yang basah dan lengket di badan.

Pakde Marto mempercepat ayunan kontolnya pada lubang kemaluan Surti. Walaupun dia sangat kagum sekaligus merasai nikmat yang sangat dahsyat atas penetrasi kontolnya pada lubang vagina Surti yang serasa perawan itu, dia tetap “concern” dengan waktu. Surti yang menikmati legitnya kontol Pakde-nya menggelinjang dengan hebatnya. Dia juga ingin selekasnya meraih orgasmenya. Genjotan kontol Pakde-nya yang semakin cepat pada kemaluannya mempercepat dorongan untuk orgasmenya. Kini dia merasakan segalanya telah siap berada di ujung perjalanan. Dan dengan jambakan tangannya pada rambut Pakde Marto, bak kuda betina yang lepas dari kandangnya Surti memacu seluruh saraf-saraf pekanya. Kedua kakinya dia jejakkan keras-keras pada tepian amben dangau hingga pantatnya terangkat tinggi untuk menelan seluruh batang kontol Pakde Marto dan datanglah malaikat nikmat merangkum seluruh otot, daging dan tulang belulang Surti. Cairan birahi Surti muncrat melebihi derasnya hujan siang itu. Terus muncrat-muncrat yang diikuti dengan pantatnya yang terus naik-naik menjemputi kontol Pakde Marto yang juga terus mempercepat sodokkannya untuk mengejar kesempatan meraih orgasme secara berbarengan dengan orgasme Surti.

Dan pada saat puncratan cairan vagina Surti mulai surut kontol Pakde Marto yang masih kencang mengayun vagina Surti tiba-tiba berkedut keras. Kedutan besar pertama menumpahkan bermili-mili liter air mani yang kental lengket dari kantong spermanya. Dan kedutan berikutnya merupakan kedutan pengiring yang menguras habis kandungan sperma dari kantongnya. Sesaat kemudian bersamaan dengan surutnya hujan mereka berdua Pakde Marto dan Surti yang istri keponakannya terengah-engah dan rebah. Amben dangau itu nyaris terbongkar. Bambu-bambunya ada yang lepas terjatuh. Mereka kini kegerahan dalam dinginnya sisa hujan. Keringat mereka bercucuran rancu dengan air hujan yang membasahi sebelumnya. Pakde Marto dan Surti telah meraih kepuasan yang sangat dahsyat. Pelan-pelan mereka bangkit dari amben dan turun ke pematang kembali. Surti membetulkan letak kain dan kebayanya. Pakde Marto memakai celana kolornya yang basah jatuh di pematang dan kembali meraih cangkulnya. Langit yang cepat cerah kembali nampak biru dengan sisa awan yang berarak menyingkir. Pohon kelapa di dusunnya nampak melambai-lambai menanti kepulangannya. Surti dan Pakde Sastro yakin bahwa Bude maupun Iding pasti cemas pada mereka yang tertahan hujan ini. Pakde sudah membayangkan pasti istrinya telah memasak air untuk kopinya lengkap dengan singkong bakar kesukaannya. Dan dalam bayangan Surti, Iding pasti telah sangat merindukannya untuk bercumbu di siang hari. Suara kodok di sawah mengantarkan mereka pulang ke rumahnya.

Peristiwa kedua,
PULANG MUDIK

Sejak berkeluarga dan tinggal di Jakarta aku selalu sempatkan pulang mudik menengok orang tua di Yogyakarta setiap hari raya Idul Fitri. Aku paling suka mudik dengan mobil sendiri. Saat anak-anakku masih kecil aku menyupir sendiri sampai ke rumah orang tua. Kemudian saat anakku sudah besar dan dewasa, merekalah yang bawa mobil.

Kalau pulang mudik aku paling senang lewat jalur selatan yang tidak begitu ramai dan jarang ada kemacetan. Dan yang paling aku suka adalah saat aku melewati desa Redjo Legi menjelang masuk kota Purworejo. Disitu tinggal pamanku, yang aku biasa panggil Pak Lik, dia adik sepupu bapakku. Aku sangat akrab dengannya karena anaknya yang seumur denganku indekost di rumahku. Kalau hari libur aku sering diajak pulang ke Redjo Legi cari belut. Depan rumahnya yang hingga kini masih merupakan sawah yang terbentang selalu ada belut untuk kami tangkap dan goreng.

Nostalgia macam itulah yang membuat aku selalu ingin mengenang kembali masa kecilku dengan menyempatkan mampir kerumah Pak Lik setiap aku pulang mudik. Dan ada yang tidak berubah di rumah Pak Lik sejak aku kecil dulu, yaitu rumahnya yang berdinding gedek kulit bambu itu. Indahnya gedek macam itu adalah fungsi sirkulasi udaranya sangat bagus karena gedeknya itu bercelah-celah akibat jalinan bambu yang tidak mungki bisa rapat benar. Dan saat pagi hari matahari akan menembusi gedek itu sehingga panasnya cukup untuk membangunkan kami yang maunya masih bermalas-malas di amben, istilah setempat untuk balai-balai yang terbuat dari bambu. Kondisi dan suasana itulah pulalah yang semakin membuat aku selalu mampir di rumah Pak Lik setiap aku pulang mudik. Dan walaupun saat usianya sudah lebih dari 50 tahun atau 20 tahun di atas saya, tetapi Pak Lik tetap nampak gagah dan sehat.

Dua tahun yang lalu Bu Lik meninggal dunia karena sakit sehingga kini Pak Lik menjadi duda. Untuk menopang kegiatannya sehari-hari Pak Lik dibantu pelayan kecil dari kampungnya untuk mencuci pakaiannya dan masak ala kadarnya. Apabila sudah tidak ada lagi yang dikerjakan dia pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Akhirnya Pak Lik menjadi terbiasa hidup sendirian di rumahnya. Sanak saudaranya yang menyarankan untuk kawin lagi agar ada perempuan yang membuatkan kopi di pagi hari atau menjadi teman saat bertandang ke sanak keluarga, tetapi Pak Lik belum juga menemukan jodohnya yang sesuai dengan keinginan hatinya. Walaupun pendidikannya cukup tinggi, waktu itu sudah menyandang titel BA atau sarjana muda, kegiatannya sehari-hari dari dulu hingga kini adalah tani. Dia menggarap sendiri sawahnya.

Tahun ini aku dan istriku terpaksa pulang mudik berdua saja. Anak-anakku punya acara sendiri bersama teman-temannya yang susah aku pengaruhi untuk ikut menemani kami. Ya, sudah. Aku nggak suka memaksa-maksa anak. Mereka perlu dewasa dan belajar mengambil keputusan sendiri. Menjelang masuk kota Kroya jam menunjukkan pukul 2 siang saat aku merasa agak tidak enak badan. Badanku agak demam dan kepalaku pusing. Sambil pesan agar nyopirnya nggak usah buru-buru, istriku memberi obat berupa puyer anti masuk angin yang selalu dia bawa saat bepergian jauh. Sesudah aku meminumnya rasa badanku agak lumayan, pusingku sedikit berkurang. Tetapi tetap saja tidak senyaman kalau badan lagi benar-benar sehat. Menjelang memasuki desa Redjo Legi menuju rumah Pak Lik aku merasakan sakitku tak bisa tertahan lagi. Kupaksakan terus jalan pelan-pelan hingga tepat jam 5 sore mobilku memasuki halaman rumah Pak Lik yang dengan penuh kehangatan menyambut kami.

Ketika dia tahu aku sakit, dia panggil embok-embok di kampungnya yang biasa mijit dan kerokan, kebiasaan orang Jawa kalau sakit badannya di kerok dengan mata uang logam untuk mengeluarkan anginnya. Ketika sakitku tidak berkurang juga akhirnya istriku membawa aku ke dokter yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Aku dikasih obat dan disuruh banyak istirahat dan tidur. Sepulang dari dokter Pak Lik sudah merepotkan dirinya dengan menyediakan makan malam. Sebelum minum obat istriku menyuruh aku makan dulu barang sedikit. Dan seusai aku minum obat, aku langsung diserang kantuk yang luar biasa. Rupanya dokter telah memberikan obat tidur padaku. Aku langsung tertidur pulas.

Sekitar pukul 2 atau 3 malam, aku tidak begitu pasti, aku dibangunkan oleh suara berisik amben bambu dibarengi suara rintihan dan desahan halus dari sebelah dinding kamarku. Kantukku masih sangat memberati mataku. Aku meraba-raba istriku tetapi tak kutemukan, mungkin dia sedang turun kencing. Di rumah Pak Lik kamar-kamar tidurnya tidak dilengkapi lampu. Cahaya dalam kamar cukup didapat dari imbas lampu di ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga yang tembus ke dinding bambu yang banyak celah lubangnya itu. Suara amben yang terus mengganggu kupingku memaksa aku mengintip ke celah dinding. Apa yang kemudian aku lihat langsung memukul diriku. Aku terpana dan limbung. Kepalaku yang pusing karena sakit langsung kambuh. Aku kembali terkapar dengan jantungku yang berdegup cepat dan keras. Benarkah Dik Narti istriku telah tega mengkhianati aku? Benarkah Pak Lik yang aku selalu baik padanya telah tega menggauli istriku yang mestinya dianggap sama dengan istri anaknya juga? Apakah kekuranganku Dik Narti? Apakah karena kesibukkanku yang selalu merampas waktuku sehingga kamu merasa berhak untuk menerima orang lain? Apakah karena hanya itu sebagaimana yang sering kamu keluhkan padaku? Ataukah Pak Lik yang sudah 2 tahun men-duda telah membujuk rayu padamu dan kamu tak mampu menolaknya? Ah, sejuta pertanyaan yang aku nggak mampu menjawabnya karena semakin menambah pusing kepalaku. Sementara berisik amben itu semakin tak terkendali. Dan rintihan Dik Narti serta desahan berat Pak Lik semakin jelas di kupingku. Aku tak mampu bangun karena obat yang aku minum membuat aku limbung kalau nggak ada yang menuntunku. Aku hanya bisa kembali ngintip dari celah dinding itu.

Kulihat Pak Lik sedang mengayun-ayun kontolnya yang lumayan gede ke lubang memek istriku sambil mencium Dik Narti penuh nafsu. Sementara Dik Narti memegangi dan meremas rambut Pak Lik untuk memastikan bibir-bibir mereka bisa tetap saling berpagut dan melumat. Suara kecupan saat bibir yang satu terlepas dari bibir yang lain kudengar terus beruntun. Sementara ayunan kontol Pak Lik yang semakin menghunjam-hunjam vagina istriku semakin membuat ambennya menjadi lebih berisik lagi.

“Pak Lik, Pak Lik, enaakk Pak Lik.. teruss Pak Lik.. oocchh.. hhmm.. Pak Lik..”, duh, rintihan Dik Narti yang sedemikian menikmati derita birahinya membuatku kepalaku semakin terpukul-pukul.
Darah yang naik ke kepalaku semakin membuatku pusing yang sedemikian hebatnya.

Dan desahan Pak Lik sendiri nggak kalah hebatnya. Sebagai lelaki sehat yang telah men-duda lebih dari 2 tahun tentu kandungan libidonya sangat menumpuk. Bukan tidak mungkin dialah yang memulai dan melemparkan bujuk rayu pada istriku sementara dia tahu aku nggak akan mudah terbangun karena obat tidurku ini. Kembali aku ngintip ke dinding. Kulihat buah dada dan istriku yang masih demikian ranum dengan pentilnya yang tegak kencang menusuk ke depan sudah terbongkar dari kantung BH-nya. Itu pasti ulah Pak Lik yang membetotnya keluar untuk dia lumat-lumat bukitnya dan sedoti pentilnya hingga kuyup oleh ludahnya. Kulihat bagaimana ketiak istriku yang terbuka saat memegangi kepala dan meremasi rambut Pak Lik. Pasti lidah dan ludah Pak Lik juga sudah melumati dan menjilati hingga basah kuyup pada ketiak Dik Narti yang sangat sensual itu. Kembali aku ambruk ke ambenku.

Rasa nyut-nyut di kepalaku sangat menyakitkan. Tanganku berusaha memijit-mijt untuk mengurangi rasa sakitnya. Tetapi setiap kali aku tergoda untuk kembali ngintip di lubang dinding. Kulihat kontol Pak Lik serasa semakin sesak menembusi vagina Dik Narti. Dia tarik keluar pelan dengan dibarengi desahan beratnya dan rintihan Dik Narti, kemudian mendorongnya masuk kembali dengan desahan dan rintihan mereka lagi. Dia lakukan itu berulang-ulang dan desahan serta rintihannya juga terdengar mengulang-ulang. Kemudian kulihat tusukan kontol Pak Lik makin dipercepat. Mungkin kegatalannya pada kelamin-kelamin mereka makin menjadi-jadi. Pak Lik tidak lagi melumati bibir Dik Narti. Dia turun dari amben dan mengangkat satu tungkai kaki istriku dan mengangkat hingga menyentuh dadanya. Dengan cara itu Pak Lik bisa lebih dalam menghunjamkan kontolnya ke memek istriku Dik Narti. Dan akibatnya kenikmatan yang tak terperi melanda istriku. Dia meremasi sendiri susunya sambil kepalanya yang rambutnya telah amburadul acak-acakan terus bergoyang ke kanan dan ke kiri menahan siksa nikmat yang terperi. Racauan terus keluar dari mulutnya. Mereka sudah sangat lupa diri. Mereka sudah tidak lagi memperhitungkan aku yang suaminya atau keponakannya yang kini berada di sebelah dinding dan tengah tergeletak sakit hampir mati.

Kenikmatan nafsu birahi telah menghempaskan mereka ke sifat kebinatangan yang tak mengenal lagi ada rasa iba, martabat, hormat dan menghargai norma-norma hidup sebagaimana mestinya. Mereka sudah hangus terbakar dan berubah sifatnya menjadi gumpalan nafsu setan gentayangan. Aku terbatuk-batuk dan mual. Pusing kepalaku langsung menghebat. Dengan suara yang sengaja kukeraskan aku mengeluarkan dahakku yang kemudian disusul dengan muntah-muntah. Aku berharap dengan tindakakanku itu segalanya menjadi berhenti. Mereka pasti akan bergegas menolong aku. Tetapi suara amben itu justru makin cepat dan kencang. Sehingga kini ada dua sumber berisik di dalam rumah Pak Lik ini. Suaraku yang orang sakit dan memerlukan pertolongan di kamar sebelah sini dan suara yang berkejar-kejaran dengan nafsu setan di kamar di sebelah sana.

Aku tahu mereka dalam keadaan tanggung. Puncak nikmat sudah dekat dan nafsu birahi untuk memuntahkan segalanya sudah di ubun-ubun. Mereka pasti berpikir, biarkan saja aku menunggu. Dan ketika saat puncak mereka akhirnya hadir suara-suara di rumah ini benar-benar gaduh. Aku yang muntah-muntah tanpa henti dengan suaraku seperi babi yang disembelih bercampur dengan suara Pak Lik bersama istriku berteriak histeris menerima kenyataan nikmat dari orgasme yang mereka raih. Untuk sesaat suara amben masih terdengar berisik untuk kemudian reda dan sunyi. Sementara disini aku masih mengeluarkan suara dari batukku disertai dengan rasa mau muntah yang keluar dari tenggorokanku.

Akhirnya istriku muncul di pintu. Dipegangnya kepalaku. Ah, kok makin panas mas, obatnya diminum lagi ya, katanya. Kemudian dengan kuat tangannya meringkus aku dan memaksakan obat cair masuk ke mulutku. Aku terlampau lemah untuk menolaknya. Saat jari-jarinya memencet hidungku kesulitan nafasku memaksa aku menelan seluruh obat yang telah berada dalam rongga mulutku. Kemudian disuruhnya aku minum air hangat. Sebelum air itu habis kuteguk aku sudah kembali jatuh tertidur pulas. Dan aku nggak punya alibi sedikitpun atas apa yang selanjutnya terjadi di rumah ini hingga 6 jam kemudian saat aku terbangun.

Jam 9 pagi esoknya aku terbangun lemah. Pertama-tama yang kulihat adalah dinding dimana aku mengintai selingkuh istriku dengan Pak Lik. Aku marah pada dinding itu. Kenapa begitu banyak lubangnya sehingga aku bisa mengintip. Dan aku juga marah pada diriku kenapa aku yang sakit ini masih pengin mengintip ke dinding itu dan menyaksikan istriku menanggung nikmat saat kontol Pak Lik menggojlok kemaluannya. Tapi saat aku ingin teriak karena marah besarku istriku dia muncul di pintu. Pandangan matanya aku rasakan sangat lembut. Dia mendekat dan duduk di ambenku. Dia ganti kompres di kepalaku dengan elusan tangannya yang lembut sambil berkata,

“Mas Roso (begitu dia memanggilku) semalaman mengigau terus. Panas badannya tinggi. Aku jadi takut dan khawatir. Pak Lik bilang supaya aku ambil air dan kain untuk mengompres kepala Mas Roso”.
Saat mendengar mulutnya menyebut Pak Lik yang aku ingat betul nada suara dan pengucapannya persis sebagaimana aku dengar saat dia meracau penuh nikmat tadi malam, seketika darahku mendidih dan tanganku langsung mencekal blusnya dan ingin membantingnya ke tanah. Tetapi senyum teduhnya kembali hadir di bibirnya,

“Hah, apa lagi mas, apa lagi yang dirasakan, sayang”, ucapnya lembut tanpa prasangka dengan mukanya yang nampak tetap suci bersih.
Langsung didih darahku surut. Aku tak mampu melawan kelembutan dan senyumnya itu. Kutanyakan padanya di mana Pak Lik sekarang. Dia bilang Pak Lik ke sawah. Hari ini giliran dia untuk membuka pematang agar air mengalir kesawahnya. Dia juga bilang agar aku banyak istirahat saja dulu. Dia sudah menelpon orang tua di Yogya dari kantor telepon, mengabarkan bahwa aku sakit dan akan istirahat dulu di Redjo Legi. Kemudian dia beranjak dan kembali dengan sepiring bubur sum-sum, aku disuapinya.

Aku jadi berpikir apa yang sesungguhnya terjadi tadi malam. Apakah panas badanku yang sedemikian rupa telah membawaku ke alam mimpi sampai aku mengigau sepanjang malam sebagaimana kata istriku, ataukah perselingkuhan Pak Lik dengan istriku itu memang benar-benar sebuah kenyataan? Kembali kepalaku berputar-putar rasanya. Istriku kembali men’cekok’i aku dengan obatnya. Dan aku kembali tertidur. Sebelum aku lelap benar, istriku dengan penuh kasih memeluk aku, mengelusi kepalaku sambil mendekatkan kedadanya. Pada saat itu aku merasakan semburat aroma yang lembut menerjang ke hidungku. Aroma itu aku yakini adalah aroma ludah yang telah mengering pada buah dada dan bagian tubuh istriku yang lain. Tetapi obat tidurku tak memberi kesempatan padaku untuk melek lebih lama. Aku kembali pulas tertidur. Sampai kini, 6 bulan sesudah pulang mudikku itu, aku tetap tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Dan aku tidak mempunyai alibi apapun untuk mempertanyakan keinginan tahuku pada istriku. Yang mungkin bisa dan perlu aku lakukan adalah memilih jalur utara yang padat saat pulang mudik yang akan datang.

Peristiwa ketiga,
ZIARAH MENCARI BERKAH

Seharusnya Mas Ganjar lebih mensyukuri hidupnya. Keadaan ekonomi keluarga kami boleh dibilang tidak ada kekurangan. Rumah dan perabotannya, mobil, beberapa hektar tanah dan sawah di berbagai lokasi telah kami miliki. Sementara usahanya tetap berjalan baik walaupun keadaan ekonomi umumnya sedang mengalami kesulitan yang besar. Tetapi dia selalu merasa kurang, selalu resah dan gelisah. Sampai-sampai dia nggak pernah lagi menyempatkan untuk menggauli aku sebagai pengisi kerinduan serta menyalurkan libidoku yang relatip masih tinggi ini. Aku sih mencoba memaklumi sepanjang upaya untuk meraih harta yang lebih banyak lagi itu dilakukan secara nalar yang sehat, bukan dengan yang dia selalu tempuh selama ini.

Setiap ada masalah dia bukan memperbaiki cara kerjanya dan berdo’a tetapi dia pergi ke dukun-lah, orang sakti-lah, tidur di kuburan-lah, berendam di kali-lah. Aku sungguh tidak mengerti dari mana dia belajar cara-cara seperti itu. Minggu depan ini rencana dia akan ziarah ke sebuah makam keramat Mbah Rogo di desa Melati di lereng Gunung Merapi. Dia minta aku menemaninya. Menurut Mas Ganjar yang diberi tahu oleh “orang tua”nya yang diberi tahu oleh “orang tua”nya lagi yang diberi tahu oleh “orang tuan”nya lagi lagi dan seterusnya, Mbah Rogo adalah prajurit Diponegoro yang kalah perang kemudian bertapa di lereng Gunung Merapi tempat dia dimakamkan kini. Karena kesaktiannya banyak orang yang punya hajat berziarah tidur di samping makamnya. Dia bilang bahwa para jenderal, para menteri, para gubernur dan bupati yang meraih sukses pasti sebelumnya ziarah dan tidur di samping makam Mbah Rogo itu. Aku tertawa bingung dan geli, katanya sakti kok kalah perang. Dan tak lagi bisa tertahan ketawaku meledak saat Mas Ganjar juga berniat tidur di samping kuburan Mbah Rogo.

Kalau soal jalan sih, aku senang-senang saja, hitung-hitung rekreasi, apalagi ke gunung, yang sudah jadi hobby petualanganku sejak SMP dulu. Setiap liburan sekolah mainanku nggak lain camping ke gunung, sampai teman-temanku menjuluki aku sebagai “peri gunung”. Aku bilang jangan ajak aku di kuburannya, nanti malahan aku masuk angin jadi merepotkan. Mas Ganjar menghiburku, bahwa walaupun di lereng Gunung Merapi, di desa Melati itu sudah didirikan hotel berbintang karena para kerabat para jendral, menteri dan macam-macam tadi biasanya ikut mengantarkan mereka yang berniat ziarah. Aku dijanjikan untuk nginap saja di hotel berbintang itu.

Singkat kata, pada jam 5 sore di suatu hari yang telah ditetapkan sebuah mobil Kijang di mana Mas Ganjar bersama istrinya, aku, nampak memasuki gerbang desa Melati. Mas Ganjar yang nyopir seharian itu tidak menunjukkan kelelahan. AC mobil kami matikan karena udara desa ini sangat sejuk dan segar. Bahkan aku merasa kedinginan.
Dengan penuh semangat dia menuju alamat rumah dimana temannya yang juga datang dari Jakarta telah lebih dahulu tiba dan menunggu di sana. Sesudah tanya sana-sini akhirnya kami memasuki halaman sebuah rumah joglo yang luas dan indah. Dan semakin indah karena dari beranda rumah itu kami bisa menyaksikan puncak Gunung Merapi yang selalu mengeluarkan asapnya.

Sesudah memarkir mobil kami menemui seseorang yang kebetulan berada di situ, Mas Ganjar menanyakan apakah Mas Tardjo yang temannya sudah berada disini. Orang tadi bergegas masuk dan tak lama kemudian keluar disertai dua orang lain. Yang satu gagah dan tinggi besar dengan kumisnya yang tebal melintang dan yang lain biasa-biasa saja. Mereka menyambut hangat Mas Ganjar yang kemudian memperkenalkan aku pada Mas Tardjo, ternyata yang berkumis melintang dan Mas Sardi penduduk asli dari desa itu. Aku agak terganggu pada cara memandang Mas Tardjo pada diriku. Matanya sepertinya hendak menelanjangi tubuhku. Aku mudah tergetar dengan pandangan lelaki semacam itu. Walaupun aku berusaha untuk tidak menunjukkan kegugupanku tak urung jantungku berdegup kencang juga. Aku paham dan sering mengalami bahwa pada umumnya lelaki kalau memandang aku selalu memandang dari segi tubuhku. Aku memang tidak cantik, tetapi setiap orang baik lelaki atau perempuan selalu memuji aku sebagai wanita yang manis dan seksi. Apalagi kalau aku pakai celan jeans seperti sekarang ini. Sehingga aku tidak begitu heran saat Mas Tardjo memandangi aku sepertinya ingin menikmati tubuhku.

Kemudian Mas Tardjo bersama Mas Sardi menujukkan kamar kami di rumah itu. Aku langsung komplain pada suamiku, Mas Ganjar, yang katanya aku akan diinapkan di hotel berbintang. Dia tidak bisa menjawab dengan jelas kecuali bahwa hotel yang dimaksud masih dalam perencanaan. Sebentar lagi, katanya dengan enteng. Aku jadi agak sebel.

Tetapi ketika kami memasuki kamar di rumah joglo itu seketika sebelku hilang. Kamar ini bukan main indahnya. Dengan perabot dan dekorasi tradisional dari jendelaku kembali aku bisa menikmati Gunung Merapi yang mengepulkan asapnya itu. Aku langsung senang dan kerasan. Aku keluarkan dan gantung baju-bajuku untuk ganti selama di perjalanan ini. Sementara Mas Ganjar mengatur rencananya yang mulai malam ini akan “prihatin”an, makan, minum dan tidur di samping kuburan Mbah Rogo selama 3 hari 3 malam berturut-turut sampai hari Jum’at Kliwon yang kebetulan juga malam bulan purnama yang diyakininya sebagai hari yang paling keramat.

Sebelum pergi ke makam yang lokasi dan pucuk atapnya nampak dari rumah joglo ini Mas Ganjar pesan kalau aku memerlukan sesuatu bisa minta bantuan Mas Sardi yang selalu berada di joglo ini pula. Selebihnya Mas Ganjar tahu persis bahwa aku adalah perempuan yang sangat percaya diri karena dia adalah partnerku setiap kali kami naik gunung dan berbagai petualangan yang lain jaman sama-sama masih remaja di SMP dulu.

Sepergi Mas Tardjo aku duduk sendiri di pendopo dalam cahaya lampu minyak di meja kecil di depanku menikmati sejuknya lereng Gunung Merapi ini. Aku senang dan bahagia berkesempatan mengalami suasana indahnya pedesaan seperti ini. Dari arah timur bulan menjelang purnama muncul di langit cerah ini Sesekali dari kegelapan sedikit ke atas sana nampak lelehan panas yang sangat spektakuler, itulah lahar Merapi yang terus muntah membawa berkah dan sesekali bencana bagi masyarakat di sekitar gunung ini. Ah, alangkah nikmatnya seandainya Mas Ganjar bukan tidur di kuburan tetapi duduk disampingku sini sambil memeluk memberi kehangat pada tubuhku. Terus terang hampir 2 bulan lebih dia nggak pernah menyentuhku apalagi menggauliku. Sehari-hari pikirannya hanya dikejar uang, harta, uang, harta, uang, harta, uang.

Tiba-tiba aku jadi ingat pandangan haus mata Mas Tardjo tadi. Aku maklum, seorang lelaki kalau sudah lebih dari 1 minggu meninggalkan istrinya pasti memandang siapapun atau bahkan apapun akan nampak cantik adanya. Dan dari yang aku dengar tadi hari ini adalah hari yang kesepuluh dia berada di desa Melati ini. Tentu saat dia melihatku serasa melihat bidadari jatuh dari langit. Bulu kudukku berdiri, sepertinya ada angin dingin yang meniupkan birahi di malam dining di lereng Merapi ini. Kulihat dalam cahaya bulan sesorang bergegas memasuki halaman joglo. Ternyata dia Mas Tardjo. Dia langsung masuk rumah, mungkin ada sesuatu yang mau diambil dari kamarnya. Tetapi beberapa menit kemudian aku mendengar langkah kaki memasuki lantai pendopo dan mendekat ketempat aku duduk sendiri ini. Aku tebak pasti dia.

“Bu Ganjar belum ngantuk? Nggak capai sesudah seharian di perjalanan?”.
Kemudian dia duduk di kursi sebelah depanku. Dalam cahaya lampu minyak ini nampak kumisnya yang tebal melintang. Dalam cahaya remang-remang lampu minyak seperti ini aku tidak perlu menyembunyikan wajahku yang terasa bengap karena darahku naik terdorong oleh pikiran-pikiranku tadi dan sedikit banyak juga semakin terdorong saat tiba-tiba Mas Tardjo, lelaki haus ini kini berada sangat dekat denganku.

Terus terang hatiku belum pernah merasa sesepi ini. Dan yang lebih gila lagi belum pernah jantungku bergetar seperti ini saat seorang lelaki yang bukan suamiku ada di dekatku. Mungkin karena malam yang dingin ini, atau karena lampu minyak yang remang-remang di pendopo ini, atau karena cahaya bulan yang menerangi tanah basah halaman joglo ini, atau karena gairah libidoku yang telah lebih dari 2 bulan tak tersalurkan ini. Dan tiba-tiba rasa bahagiaku yang mengawali saat aku duduk di pendopo ini tadi berubah jadi derita dan siksa. Rasa percaya diriku yang tak diragukan oleh Mas Ganjar suamiku kurasakan oleng. Aku kehilangan ketegaranku yang sering kurasakan saat-saat pendakian di karang terjal, tak takut untuk jatuh. Kini aku takut jatuh. Bukan jatuh dari ketinggian, tetapi jatuh dalam sepi dan kehausan yang nisbi. Tanpa terasa air mataku menggenang di pelupuk mataku dan tiba-tiba wajahku tertelungkup di meja kecil di depanku sambil aku menangis sesenggukan. Tentu saja Mas Tardjo kaget. Pertanyaan yang dia lontarkan padaku tadi kujawab dengan tangisanku.

“Kenapa bu, Bu Ganjar sakit?”.
Kemudian dia menghampiriku, menyentuh bahuku, memeluknya, kemudian mengangkat agar aku tegak kembali.
“Sebaiknya Bu Ganjar istrirahat. Mari kuantarkan ke kamar Ibu”.
Aku nggak tahu kenapa aku setuju saja dengan usulannya. Saat aku dibimbingnya untuk berdiri dari kursi dan kemudian sedikit dipapah saat menuju ke kamarku aku merasakan semacam ketenangan dari sebuah tempat perlindungan. Mas Tardjo seakan menggantikan peran Mas Ganjar yang seharusnya dalam saat-saat seperti ini berada di dekatku. Tanpa sadar tanganku berpegangan pada pinggangnya dan seketika rasa hangat tubuhnya mengalir ke tubuhku. Aku merasa kamarku yang hanya beberapa meter dari pendopo seakan demikian jauh.

Perjalanan dalam papahan Mas Tardjo yang hanya beberapa langkah ini seakan bermil-mil. Dan saat berada tepat di depan pintu sepertinya aku masih ingin berjalan lebih jauh lagi, tubuhku semakin menggelendot pada papahan Mas Tardjo yang kemudian dengan sigapnya meraih kakiku kemudian menggendongku memasuki kamar dan menidurkan aku ke ranjang. Tanganku yang otomatis memeluk lehernya saat dia menggendongku tak kulepaskan ketika Mas Tardjo hendak bangkit turun dari ranjangku. Pelukan itu aku pererat bahkan kutarik wajahnya mendekat kewajahku. Aku menginginkan perlindungan yang lebih dari dia. Aku mencium pipinya dan kemudian bibirnya. Aku belum pernah mencium bibir berkumis karena suamiku tidak berkumis. Saat aku merasakan aneh pada bibirku karena kumisnya, Mas Tardjo langsung menyambut ciumanku dengan lumatannya yang aku rasakan sangat nikmat dan sekaligus menyejukkan gejolak birahiku. Malam itu kami benar-benar tidak tidur dan saat pakaian-pakaian kami terlepas dari tubuh kami juga tak sempat memakainya lagi. Menjelang matahari terbit yang ditandai ayam berkokok di dusun Melati di lereng Merapi ini kami tertidur telanjang dalam selimut tebal yang tersedia di ranjang kami. Sejak hari itu, selama 3 hari 3 malam Mas Ganjar “bertapa” di makam, aku dan Mas Tardjo terus menerus mendayung nikmat dalam samudra nafsu birahi kami yang melanda bak badai tornado di lautan bebas.

Dalam perjalanan pulang Mas Ganjar menceritakan bahwa dia mendapatkan wangsit dalam bentuk mimpi saat tertidur di makam. Dia seakan didatangi seorang kakek berjubah putih, dia adalah Mbah Rogo, yang memberikan pesan apabila permintaan Mas Ganjar ingin terpenuhi, dia harus memperbanyak “bertapa” dirumah dan memberikan amal lebih banyak kepada para karyawannya melalui gaji yang cukup dan membayar mereka tepat pada waktunya. Sekali lagi aku tertawa geli akan pesan Mbah Rogo yang begitu teknis dan detail. Dan lebih dari itu seakan Mbah Rogo tahu akan kehausan birahi dan penyelewenganku.

Sepulang dari dusun Melati di lereng Merapi itu, saat Mas Ganjar berada di rumah kami hampir-hampir tidak sempat memakai pakaian kami. Dan Mas Ganjar sendiri lebih sering berada di rumah serta tidak pernah lagi kluyuran mencari makam-makam keramat

TAMAT

Leave a Reply

cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot, cerita sex incest sedarah, cerita sex selingkuh, cerita sex ngentot mama nonton bokep indo, bokep jepang, bokep barat, bokep jilboob, bokep sma, bokep smp, abg indo, bokep remaja,


© 2017-2018 Cerita 998

Bokep indoKomik hentaiWebtoon dewasa